Jumat, 24 September 2010

Tempe bongkrek enak dimakan dan menggugah selera.. Fact Or FIction..??

"Tempe bongkrek enak dimakan dan menggugah selera.."



Fact Or Fiction...??



FAKTA..!

Tempe bongkrek adalah tempe yang dibuat dari ampas kelapa dimana sangat berpeluang untuk terkontaminasi oleh bakteri Pseudomonas cocovenenans. Didalam tempe bongkrek, bakteri ini akan memproduksi toksin tahan panas yang menyebabkan keracunan pada orang yang mengkonsumsinya. Toksin yang diproduksi Pseudomonas cocovenenans ada 2, yaitu asam bongkrek (tidak berwarna, sejenis asam lemak tidak jenuh) dan toksoflavin (berwarna kuning, struktur mirip dengan riboflavin). Asam bongkrek memobilisasi glikogen didalam liver, menyebabkan hiperglikemi lalu hipoglikemi dan menghambat pembentukan ATP yang bisa menyebabkan kematian, sementara toksoflavin menghasilkan hidrogen peroksida yang toksik terhadap sel.



Bakteri Pseudomonas cocovenenans timbul dikarenakan pro­ses fermentasi yang tidak sempurna dimana akan menghasilkan enzim ter­tentu yang bisa memecah sisa minyak kelapa dalam tempe bong­krek. Proses tersebut menghasilkan asam lemak dan glise­rol. Selanjutnya, asam lemak akan mengalami pe­mecahan yang membentuk asam bongkrek dan sebagian toksoflavin. Baik asam bongkrek maupun toksoflavin, masih te­tap bertahan pada pe­manasan tinggi sampai suhu 120oC.



Keberadaan asam bongkrek menyebabkan kapang tidak bisa tumbuh dengan baik, sehingga miselium kapang dipermukaan tempe bongkrek yang dicurigai mengandung asam bongkrek terlihat tipis. Jika mengandung toxoflavin, tempe bongkrek akan terlihat berwarna kuning (normalnya putih). Tapi, karena toksinnya yang sangat letal, sebaiknya hindari mengkonsumsi tempe bongkrek.Beberapa kasus keracunan akibat tempe bongkrek sering terjadi, menurut Prof. Rubiyanto Misman Pakar dari Fakultas Biologi Unsoed penyebab keracunan ini bukan disebabkan oleh bakterinya, namun dikarenakan oleh asam bongkrek yang dihasilkan bakteri. ''Selain asam bongkrek yang bersifat racun dan tidak berwarna, ada toxoplasma yang berwarna kuning,'' tambahnya.



Baik tempe gembus maupun tempe bongkrek merupakan makanan klangenan atau kegemaran. Rasanya enak bagi yang menyukai. Proses fermentasi tempe gembus dan bongkrek sama. Perbedaan terletak pada kandungan lemaknya. Tempe gembus yang terbuat dari bungkil minyak kelapa kandungan lemaknya rendah, yakni 3%-4%, karena proses pembuatannya menggunakan mesin pres. Menurut mantan rektor Unsoed itu, bakteri Pseudomonas Cocovenenans tidak tumbuh di media yang kadar lemaknya rendah. Tetapi tumbuh di tempe bongkrek yang kadar lemaknya 10%-12%. Kadar lemak yang tinggi disebabkan proses pembuatan minyak kelapa tradisional menggunakan tangan. Asam bongkrek yang masuk tubuh manusia merusak susunan gula darah sehingga tidak bisa mengikat oksigen. Akibatnya, penderita keracunannya menimbulkan gejala seperti sesak napas. Disusul tekanan darah yang tiba-tiba tinggi dan akhirnya drop sampai korban meninggal.



Jika tempe bongkrek sudah berwarna kekuningan, semestinya makanan tersebut tidak dikonsumsi. Sebab, dalam kondisi tersebut, tempe bongkrek sudah ditumbuhi Pseudomonas cocovenenans dan timbul asam bongkrek. Jadi, berwaspadalah terhadap makanan yang anda makan. ”Mencegah lebih baik dari pada mengobati”







SUMBER :

http://www.suaramerdeka.com/harian/0708/02/nas05.htm

http://ilmupangan.blogspot.com/2010/07/tempe-bongkrek.html



By : LITBANG HIMAGHITA



(Iswara-Ganang-Lulis-Via-Pipit-Opie-Uyun)

Pasti Nyalaaaa...!!!!

Selasa, 01 September 2009

Fenomena Beras Berpemutih


kenaikan harga yang sangat tidak bisa diprediksi membuat para pedagang harus memeras otak untuk bisa bertahan. Mereka harus cerdik dalam menjual dagangannya. Sayangnya, ada beberapa oknum pedagang yang berbuat curang untuk meraih untung yang lebih besar. Tentunya hal ini tidak bisa dibenarkan. Pada tulisan kali ini akan sedikit mengulas tentang beras berpemutih yang kini banyak beredar di pasaran.

Berdasarkan inspeksi mendadak (Sidak) tim gabungan Pemkab Sukoharjo tim gabungan juga menemukan beras yang menggunakan pemutih pakaian. Dibandingkan beras yang warnanya kusam, beras dengan pemutih pakaian harganya lebih mahal yaitu mencapai Rp 6.300 per kilogram (kg). Jenis beras yang menggunakan pemutih pakaian kebanyakan adalah C4. Meski beras dengan pemutih penampilannya lebih bagus, pedagang mengaku, masyarakat lebih menyukai beras yang warnanya kusam. Hal itu disebabkan, harga beras yang warnanya kusam relatif lebih murah.

Anggota tim gabungan dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, menerangkan, di hampir semua pasar tradisional, beras dengan pemutih selalu ada. Meski penampilan luarnya bagus, namun apabila beras tersebut dikonsumsi akan berbahaya bagi tubuh.

Ciri-ciri

Beras apabila sudah diberi pemutih, selain penampilannya bagus juga lebih awet. Nah, yang diinginkan pedagang itu kan tidak ada lain kecuali keuntungan besar serta barang jualannya awet alias tidak cepat rusak. Agar tidak tertipu, Margono menambahkan, masyarakat sebenarnya bisa belajar mengenali beras yang menggunakan pemutih. Selain dari warna, beras dengan pemutih apabila dipegang halus. Lain dengan beras alami yang apabila dipegang lebih kasar.

Dampak Pengonsumsian

Bahaya jangka pendek beras yang menggunakan pemutih terkait erat dengan pencernaan seperti diare. Untuk efek jangka panjang, mengkonsumsi beras dengan pemutih secara terus-menerus bisa menyebabkan kanker.

By : HIMAGHITA (Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanaian) UNS